Saturday, December 15, 2007 at 9:25 PM | 0 komentar Link ke posting ini  
Bismillahirrahmanirrahim....

Limabelas alasan kenapa aku terlahir di dunia :
  1. Aku terlahir di dunia untuk mengabdi pada Tuhanku ALLOH setelah itu mengikuti segala petunjuk Rasululloh.
  2. Aku terlahir di dunia untuk berbakti pada orang tua.
  3. Aku terlahir di dunia untuk mengasihi dan menyayangi sesama manusia.
  4. Aku terlahir di dunia untuk menjadi pemenang/winner dalam segala hal.
  5. Aku terlahir di dunia untuk menjadi seorang pemimpin dunia.
  6. Aku terlahir di dunia untuk menjadi seorang sukses dan berkekayaan melimpah.
  7. Aku terlahir di dunia untuk menjadi seorang yang jujur, ikhlas dan selalu dalam jalan yang lurus.
  8. Aku terlahir di dunia untuk mempunyai istri yang solehah, cantik dan menyejukkan hati.
  9. Aku terlahir di dunia untuk mempunyai keturunan terbaik di bumi.
  10. Aku terlahir di dunia untuk membahagiakan sesama manusia.
  11. Aku terlahir di dunia untuk selalu menebarkan semangat dan keceriaan.
  12. Aku terlahir di dunia untuk menjadi seorang yang menginspirasi dan memotivasi orang lain.
  13. Aku terlahir di dunia untuk menjadi manusia yang bermanfaat bagi orang yang lain.
  14. Aku terlahir di dunia untuk menjadi manusia yang selalu memiliki hari yang lebih baik daripada hari sebelumnya.
  15. Aku terlahir di dunia untuk menjadi manusia yang selamat di akhirat kelak, di dalam surga yang kekal di dalamnya.
Ami...n, semoga ENGKAU mengizinkannya YA ALLOH...kepada-MU lah hamba hanya meminta dan memohon, segalanya...
Posted by Somet The 武士 Label: ,
Desember Ini Ceria!!!

Revisi makalah usulan penelitian belum kelar...., tapi akan segera aku selesaikan....
Lalu aku akan menyelesaikan penelitianku yang menyenangkan....,
kemudia aku pentas monolog di RRI tanggal 29 Desember 07.
Menyenangkan bukan???


[aku adalah tuan dari pikiranku, biarkan aku yang mengendalikan dan mengarahkannya]
Posted by Somet The 武士 Label: , ,
Monday, December 10, 2007 at 5:36 PM | 0 komentar Link ke posting ini  
MONOLOG MBULAT... (Part 2)

Kalian tau, aku paling risih melihat seorang perempuan menagis. Bukannya terus diam, tapi dia tambah menangis mendengar omonganku. Terlebih saat kuajak dia untuk merajut tali kebahagiaan yang baru. Dia mengatakan bahwa dia sadar dan merasa tak pantas menjadi pendamping hidupku. Aku dalam pandangannya adalah seseorang yang terlalu baik, jujur, pengertian, dan berpikir jernih. Dan dengan sangat memohon dia memintaku untuk meninggalkannya. Bahkan dia memaksaku untuk tidak menemuinya lagi. Dia merasa dirinya begitu kotor, hina dan nista, bahkan untuk sekedar bertatap muka denganku. Aku slalu mencoba untuk menemuinya, mencarinya, menghubunginya, namun dia seakan lenyap ditelan bumi. Apa salahku? Ada yang salah dengan diriku? Aku tak habis pikir!
Sudahlah, mungkin memang bukan jodohku....”HEY, ada yang datang!!!”
(memperhatikan sesosok dari kejauhan hingga seolah mendekat)
Bakso mas?
Oh tidak, korek? (meraba-raba), “ini” (mengulurkan korek).
Dari mana mas? Kelihantanya tergesa-gesa sekali?
Emmm...ya sudah, sama-sama.
Yah.....kukira pembeli. Tak apalah, kadang memang ada saja orang aneh seperti itu. Tapi, sebentar, sepertinya wajah orang itu tidak begitu asing bagiku. Aku pernah ketemu dimana yha? Ah, sudahlah, nggak penting.

Ting....ting.....ting....................
Kalau sepi begini saya sering membayangkan yang sudah-sudah, apalagi kalau bukan masalah cinta??? Hingga kini belum juga kutemukan pasangan hidup. Seperti sudah kukatakan dari semula, aku bukan orang yang suka pilah-pilih. Kalau memang jodoh, tak akan kemana. Dan cinta memang tak memandang usia, derajat, pangkat, martabak..... eh martabat dan seterusnya.
Ya, dapat melanda siapa saja. Tidak peduli miskin, kaya, tua bangka atau muda belia, pria maupun wanita, majikan atau budak belian, emas, permata, liontin, cincin, kalung dan barang berharga lainnya. Hehehe..... salah yha? Bener lhoooo!!! Itu kata orang-orang tua. Tapi tidak dengan orang tua itu, orang tua itu (growl).

Orang tua gadis yang hampir saja menjadi pendamping hidupku, gadis yang kuidamkan selama ini. Dia sempurna, cantik secara fisik, manis secara sikap. Santun secara tingkah laku. Cukup secara harta, bahkan berlebih. Dan baik secara keturunan, dan secara-secara cuapek de...h.. yang lebih membahagiakanku, gadis itu mau menerimaku apa adanya, pada mulanya. Ya, dia mau menerimaku keadaanku. Menyanjung pekertiku. Ah, tak ada yang lebih indah dari pada itu.

Tetapi, ketika sudah bertemu kata tetapi. Ada saja hal-hal yang tidak dapat tercapai. Orang tua itu! (Diam. Menahan geram)
Orang tua si gadisku yang tak akan kusebut namanya. Biarlah ia terkubur bersama kenangan yang menyakitkan, pahit! Biarlah namanya terbawa angin. Musnah!
Posted by Somet The 武士 Label: ,
MONOLOG MBULAT.....(Part 1)

Berkali-kali aku gonta-ganti pekerjaan mulai dari tukang batu yang hanya mengandalkan fisik, hingga tukang......”Eeeh, kalian tidak percaya? Coba kalian lihat otot-otot di tubuhku ini!” (bergaya binaraga), “Hah? Kalian masih tidak percaya juga? Coba perhatikan dengan benar kedua belah telapak tanganku ini, sudah?”halus”? bukan! Kalian lihat dengan teliti, ada kapal besar disini. Ya, daging kapal, daging yang mengeras, membatu. Bertebaran, menggunduk, kasar. Tapi aku senang, meski tubuh lelah tapi hasil keringatku sendiri. Tetes-tetes peluh yang penuh berkah.

Aku juga pernah jadi pedagang asongan, jual air mineral, rokok, permen, tapi banyak sesama pedagang mengeluh, katanya aku menguasai semua ruang, apalagi di lorong bis, bukan hanya sesama pedagang, tapi kernet dan kondektur juga komplain. Hanya memenuhi bis saja, terlebih saat bis penuh sesak. Wah, panas kupingku mendengar celotehan mereka, bikin bis olenglah, bikin tambah panaslah, sumpeklah, apalah, inilah, itulah dan yang lain-lainlah, padahal kerjaku saja belum dimulai, belum apa-apa, huh.....kaya’ sajaknya siapa ya? Yang aku ini binatang jalang itu lho...

Kemudian aku ganti haluan, maksudku masih tetap jualan, jualan rokok juga dengan koran, majalah dan teman-temannya itu. Tetapi di warungan, tepatnya di pinggir jalan Jendral Soedirman. Yah, tapi memang tapi, permasalahannya bukan laku atau tidak laku, tapi..... penyakitku itu yang tidak bisa ditawar, hingga kini tak ada obatnya. Penyakitku itu...., kalau sudah duduk, bersandar, tenang. Apa yang terjadi selanjutnya? Penyakitku langsung kambuh. Menyerang dengan ganas, aku pasti tertidur, apalagi kalau sepi, wah mendukung sekali. Hehehe...penyakit ko’ tidur!!!

Makanya, aku sekarang beralih profesi menjadi penjual bakso keliling. Lumayan. Tidak begitu menguras tenaga, tidak diomeli orang lain, dan yang pasti terhindar dari penyakit akutku itu, Tidur!
Masalahnya waktu jualanku, mulai dari sore sampai malam, yaa....sehabisnya lah. Dengan keliling aku terhindar dari serangan kantuk, karena kalau sekiranya di satu tempat nggak laku, aku langsung ke tempat lain. Jalan kaki, itung-itung olahraga. Badan jadi sehat, uang jadi kuat. Mencari keramaian, perempatan, pos kamling, atau pusat-pusat keramaian seperti alun-alun, tempat orang punya hajat atau tempat-tempat tontonan. Pasti lakunya.

Ting.....ting........ting.........
Ada yang bilang kalau hujan pasti laris, tapi yha nggak mesti. Rejeki kan datangnya dari yang di atas. Eh, bener lho!aku mempercayainya. Pernah aku berjualan sekuat tenaga, tapi tak ada hasilnya. Nol. (melepas peci dg tangan kanan kemudian memukulkan ke tangan kirinya).

Peci ini, bisa jadi ada pengaruhnya saat jualan.sebelum aku cerita tentang peci ini, aku akan bercerita masalah penampilan. Dulu sewaktu awal berdagang bakso, pakaianku seadanya. Waktu itu kebetulan baju yang aku pakai berwarna hitam. Ternyata pelanggan tidak merespon. Seakan takut memandangku....padahal daganganku bersih....,mengetahui hal itu aku ganti pakai kaos bergaris. Merah putih,merah putih...bukannya pada beli, mereka malah mencibir : “pantasnya sampean jualan sate dengan pakaian kayak gitu”, aku sakit hati. Tapi bagaimanapun itu adalah sebuah masukan. Kritikan kadang memang menyakitkan, tapi kalau kita lihat dari sisi positifnya pasti bermanfaat, seperti obat, kalau dirasa memang pahit, tapi didalam tubuh membuat sehat. Akhirnya aku ganti pakaianku dengan kemeja, rapi, baju kumasukkan celana, rapi. Mungkin memang ada hubungannya antara pakaian dengan konsumen. Hasilnya lumayan.

Sedang senang-senangnya meneguk hasil, isu bakso tikus merebak! Wah!!! Bubar daganganku...pembeli mulai menghindar. Padahal jujur, aku tak pernah berjualan menggunakan daging tikus. Baksoku asli, daging sapi. Tapi orang jujur, jaman sekarang malah jarang dipercaya. Aku hampir putus asa, tiap hari tak ada pemasukan, kosong, rasanya ingin mati...saja.
Akhirnya, saat aku bingung, frustasi, entah kenapa, tiba-tiba, saat itu aku sudah dekat dengan masjid. Kuparkir gerobak dagangan, lalu ikut berjamaah shalat Isya. Usai shalat, aku duduk-duduk di serambi, jama’ah telah sepi. Saat sedang merenungi nasib, datanglah imam masjid itu. Setelah ngobrol ngalor-ngidul, dia serta merta memberikan pecinya kepadaku, semula aku menolaknya, namun dia memberikannya dengan tatapan yang sangat ikhlas.Katanya: “begini anak muda, kulihat kau sebenarnya baik, rajin, jujur, mungkin memang nasib belum berpihak padamu, jangan putus asa, tetaplah berusaha Nak! Bapak berempati padamu, bapak hanya bisa mendoakanmu. Dan, kuberikan peci ini padamu, semuga kelak kau berhasil”, kemudian dia menghilang, cling!hehehe....tidak-tidak, memangnya ini sinema horor.

Aku tidak pernah percaya pada hal-hal gaib, mengenai benda-benda bertuah, tapi semenjak aku memakai peci ini, daganganku laris-manis, dari isu bakso tikus, hingga isu formalin kundang, hehehe..... bukan-bukan formalin thok! Daganganku tetap laku, laku keras malah!
Setiap hari aku cuma jualan 75 mangkok, tidak lebih, tidak kurang, aku nggak pernah menambah jumlah daganganku walaupun aku sedang laku keras, aku ngga mau serakah, takut kualat. Aku berjualan sampai dagangan habis, meskipun harus berjualan sampai menjelang dini hari. Ah.....meski sekarang agak sepi, tapi kita harus tetap bersyukur..., hari ini laku 67 mangkok.

Ting......ting.......ting...............
Ya.....begitulah hidup, ceritaku ngga menarik ya??
Sebenarnya ada satu permasalahan yang hingga kini belum aku temukan jawabannya. Sejujurnya aku malu mengatakannya. Tapi akan kuceritakan padamu. Asal kamu jangan menceritakan hal ini pada siapapun, janji?.............ya sudah kalau ngga mau......
Janji ya!!??? Baiklah....

Begini ceritanya, sebenarnya hingga kini aku masih jalang...., jalang? Oh, maksudku lajang, telajang......kalau mandi.....hihihi....bukannya aku tidak laku, sudah beberapa kali aku mendekati perempuan. Tapi mereka menyingkir, apa salahku? Apa kekuranganku? Apa karena kelebihanku adalah kekuranganku?
Aku pernah punya pacar, dari penampilannya bisa kugambarkan: tubuhnya tinggi, kulitnya putih, rambutnya putih, ehh....sebentar maksudku rambutnya panjang, dia baik, ramah, sopan, meski agak manja, dia memahami aku, mau mengerti keadaanku. Ah....hari-hariku menjadi sangat indah dan berwarna, aku semakin giat bekerja, tapi saat kuajak untuk serius, dia selalu menghindar. Hingga akhirnya suatu saat kami berbicara 4 mata:

Dek, sekian lama kita pacaran, apa tidak ada pikiran untuk melanjutkan ke jenjang pernikahan?
Bukannya aku menolak keinginanmu mas, tapi ada satu hal yang menganjal hatiku mas....
Bicaralah, bukankah sudah sejak semula mas selalu mengatakan kejujuran adalah yang paling utama dalam hubungan kita?
Memang benar mas, selama ini mas Faiz selalu bicara jujur, apa adanya dan tak ada yang ditutupi sama sekali.
Ya..., kurasakan selama ini adek mau menerima keadaanku yang sebenarnya, lalu?
Ini masalah Fitri sendiri mas...., fitri.....mas...
Kenapa diam? Ayo lanjutkan, adakah yang kau sembunyikan dariku...?
Maafkan Fitri mas..., sebenarnya Fitri sudah bukan gadis lagi, Fitri sudah punya anak, mas? Kenapa gantian mas yang terdiam? Mas, kenapa? Mas marah?
Aku tidak marah, dan bisa menerimamu dek, lalu dimana anak itu sekarang? Dan suamimu?
Anakku meninggal saat aku melahirkannya. Dan pacarku kabur, tak mau bertanggung jawab. Dia pergi, dasar b*****an!!!
Sudahlah, tinggalkan kubangan hitam masa lalumu dek, kita songsong hari depan yang cerah.
Tapi statusku bukan gadis lagi mas, gadis bukan, janda pun bukan mas.....(crying)




Posted by Somet The 武士 Label: ,
Visit the Site
MARVEL and SPIDER-MAN: TM & 2007 Marvel Characters, Inc. Motion Picture © 2007 Columbia Pictures Industries, Inc. All Rights Reserved. 2007 Sony Pictures Digital Inc. All rights reserved. blogger templates