

Senandung di Sebuah Desa
nikmati,
hidup itu tapak,
seperti tapak-tapak yang berlalu,
nikmati,
embun pagi terakhir di desa ini.
belaian lembut mentari senja ditepi bendungan.
curah-curah hujan siang hari.
nikmatilah,
ini bukan bait-bait puisi Campoamor,
ini hanya tentang suatu yang tak pernah hilang.
kenanglah,
sunggingan senyum perawan,
cengiran para perjaka,
tawa riang bocah-bocah tak bersendal.
kenanglah,
tak pernah habis dimakan usia,
dalam sorot mata yang bersahaja.
ingatkah?
perih-perih itu kawan?
tapi dengan perih, kau, aku ditempa,
diukir menjadi patung-patung emas yang punya harga.
ingatkah kawan, ketika kalbu menyuarakan pilu?
pilu-lah yang membawamu kepada rindu.
ingatkah canda-candamu itu?
karenanya, namamu terukir dihatiku,
sebagai penghangat nurani yang beku.
maafkan,
senangi,
kenapa harus berakhir?
karena itulah hidup,
kenapa problematika tak kunjung padam,
karena itulah hidup.
detik demi detik kedepan, tak tahu apa kan terjadi,
detik demi detik berlalu, meninggalkan jejak.
tanpa tapak dan jejak tak ada hidup.
ahaii, ini bukan tentang sevilla atau venesia,
ini hanya tentang desa-desa dekat sini saja.
kau lihat permadani hijau itu?
liuk-liuk sungai, berhulu hilir entah dimana,
kemana harus kau pergi?
kemana harus ku pergi?
ke depan, belakang, atau
kembara berenang maju ke depan.
dan takkan lupa, melihat ke belakang.
jangan diam, pensiunan pahlawan bilang: diam itu mati.
sebelum waktu berhenti,
dan jantung enggan berdetak,
boleh kukatakan sebuah pesan?
seperti kau memesan secangkir teh hangat atau kopi.
bukan yang terakhir kali, tapi inilah sebuah akhiran, mungkin
tanpa batas, kau dan aku tak tahu,
sudikah kau, mengingat namaku sebelum tidurmu?